• Home
  • About
  • Youtube Channel

gmail instagram twitter youtube

Dikalamuda

Berbagi Cerita Ala Kadarnya

Aku belajar bahwa menyendiri tidak selalu berarti menjauh. Kadang itu caraku menenangkan rindu, supaya hatiku tidak terlalu gaduh oleh harapan.

Aku mengerti kesibukan, jadwal yang padat, dan tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan. Aku bahkan bangga melihat seseorang yang kucintai bertumbuh dan sibuk dengan hal-hal baik. Itu tidak pernah menjadi masalah bagiku.

Yang terasa berat adalah ketika di balik semua pengertian itu, aku juga butuh ditemani. Bukan nanti, tapi sekarang. Bukan dengan janji, tapi dengan hadir.

Aku pernah merasa bercerita, tapi tidak sepenuhnya didengar. Aku memilih memaklumi, karena aku tahu tidak semua waktu bisa dipaksa. Namun, ada sedih yang tinggal diam-diam.

Aku juga belajar jujur pada diriku sendiri: ada rasa tidak nyaman dan cemburu kecil yang tidak ingin kupelihara, tapi juga tidak bisa kupungkiri. Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun. Aku hanya sedang belajar menjaga hatiku sendiri, agar tidak bergantung sampai melukai diri.

Tulisan ini bukan tentang tuntutan.

Hanya tentang hati yang ingin dimengerti, setelah terlalu sering belajar mengerti.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku tak ingin cintaku membuatnya tertekan. Maka aku belajar memahami jarak, diam, bahkan dingin yang sesekali datang.

Aku tau, kadang yang ia butuhkan bukan jawaban, tapi ruang. Bukan pelukan, tapi waktu. Dan di situ, aku tetap ada, bukan untuk memaksa didekati, tapi untuk memastikan ia tak merasa sendirian.

Aku tak selalu kuat, tapi aku tak ingin membuatnya merasa bersalah atas keadaannya. Aku tetap berusaha bersikap baik, bahkan saat perasaanku sendiri sedang rumit.

Aku tetap mengirim kabar baik, tetap memberi senyum, tetap menyemangati, meski kadang hatiku ingin didengar juga. Karena buatku, mencintai itu bukan hanya tentang merasa dicintai balik. Tapi tentang mampu melihat seseorang di sisi paling rapuhnya, tanpa membuatnya takut kehilanganmu.

Aku tau aku tak sempurna. Tapi aku tau, aku tulus. Dan semoga, di antara semua ketidakpastian ini, ia tau… aku selalu berusaha mengerti, bahkan di saat aku sendiri juga ingin dimengerti.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Lagian udah terbiasa sendiri kan?

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Yang tulus pun bisa lelah kalau tidak disambut. Kamu berhak istirahat dari memberi, tanpa harus merasa bersalah atau takut kehilangan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Aku bukan robot, aku juga manusia yang berhak tenang. Aku sayang dia, tapi aku juga sayang diriku. Aku hadir, tapi aku ga akan terus mengorbankan ketenanganku untuk seseorang yang belum tentu siap menerimanya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bertahan sedikit lebih kuat ya, aku...
"Cape itu tandanya kamu bergerak. Ketika bergerak bersama orang yang kamu percaya, itu namanya perjuangan, bukan beban." :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika, hanya bisa dimengerti dengan rasa. Seperti bagaimana aku yang sempat mati-matian belajar melepaskan, akhirnya kembali pada seseorang yang dulu paling sering kuceritakan dalam doa dan tulisan.

Orang lama.

Dia yang pernah begitu dekat, kemudian menjadi asing. Lalu entah bagaimana, semesta menggiring langkah kami saling bersinggungan. Bukan dengan cara yang megah, bukan dengan drama yang hebat, tapi diam-diam saja. Pelan, seperti tetes hujan pertama setelah kemarau panjang.

Aku sempat berpikir, apa ini bentuk dari lelah mencari? Atau ini memang arah pulang yang tertunda? Dan sekarang, ia kembali. Bukan sebagai pengunjung sementara, tapi sebagai seseorang yang siap menetap.

Kami pernah diam dalam ruang yang berbeda, sibuk dengan luka dan pelajaran hidup masing-masing. Tapi waktu, dengan segala kebijaksanaannya, mempertemukan kami lagi. Bukan untuk mengulang yang dulu, melainkan menulis ulang dengan lembar baru.

Waktu berjalan, kami tumbuh. Mungkin tak lagi seperti versi dulu, yang penuh keraguan dan ego. Kini, kami bicara lebih banyak soal pemahaman, tentang bagaimana saling tenang itu jauh lebih penting daripada sekadar merasa dicintai.

Dulu, aku sering menulis tentangnya. Tentang rindu yang tak pernah selesai, tentang luka yang tak pernah betul-betul sembuh. Tapi sekarang, tulisan ini hadir bukan untuk mengenang kesakitan. Ini tentang keikhlasan yang membawa pulang, tentang kesempatan kedua yang tak semua orang dapatkan.

Kali ini, bukan hanya aku yang menyediakan ruang, tapi dia juga membawa atap untuk kita tinggali bersama kelak. Bukan janji manis yang ia ucapkan, tapi arah yang ia tunjukkan. Bukan rayuan yang membuatku percaya, tapi cara ia memeluk niat baiknya.

Kami tak lagi bicara soal "andai", melainkan tentang "bagaimana" dan "kapan". Kami tak lagi memaksakan peran, tapi saling menerima bentuk cinta yang kadang tak sempurna, tapi nyata.

Dan kalau dulu aku menyimpan harap dengan ketakutan, sekarang aku menaruhnya dengan harapan yang baru, harapan yang ia jaga bersamaku.

Mungkin ini bukan tentang kembali, tapi tentang melanjutkan. Bukan mengulang cerita lama, tapi menuliskan akhir yang berbeda.

Doakan kami. Agar langkah ini, yang penuh niat baik, bisa sampai pada satu kata yang lama kami doakan diam-diam: selamanya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Baca sambil dengerin lagu ini! :)


Kemarin, laptopku ngasih pesan ini: "The disk wasn't ejected because one or more programs may be using it." Kelihatannya sepele, kan? Tapi entah kenapa rasanya relate banget sama hidupku belakangan ini. 

Terinspirasi dari Aldi Haqq, kadang, kita pengen keluar dari sesuatu. Entah itu kenangan, kebiasaan buruk, atau perasaan yang nggak lagi sehat. Kita pikir semuanya udah selesai, tapi ternyata ada bagian lain dari diri kita yang masih menggunakannya. Relapse tuh persis kayak gitu. Kita udah ngerasa move on, tapi ternyata ada "program" di diri kita yang masih jalan tanpa kita sadar.

Apa yang bikin kita relapse juga sederhana banget. Hal kecil kayak lagu yang kita dengerin, foto di galeri, atau tempat yang nggak sengaja dilewati bisa bikin emosi lama ke-trigger lagi. Padahal mungkin kita udah beraktivitas normal atau bahkan udah bisa ketawa lagi. Tapi entah kenapa relapse tiba-tiba datang tanpa notifikasi.

Saat kita relapse, kita nggak bisa eject atau hapus paksa dari pikiran maupun hati kita karena kita masih pakai kenangannya. Kalau kita paksa yang terjadi apa? Resiko disk corrupt jadi lebih gede, device jadi bisa rusak, dan masih banyak resiko lain yang bakal kita hadapi.

Jadi menurutku, nggak apa-apa kalau masih ada yang nyangkut, nggak apa-apa kalau belum bisa move on sepenuhnya. Yang penting, kita sadar, dan pelan-pelan ngeberesinnya. Nggak semua hal harus selesai dalam sekali jalan, kan? Kita cuma perlu kasih waktu, nunggu sampai semua "program" selesai dengan sendirinya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sometimes, the most difficult thing in life is letting go of someone you care about. Love is a complex emotion, bisa bikin kita nggak hanya berkorban buat orang lain, tapi juga bisa nyakitin diri kita sendiri. Aku pernah ada di posisi di mana aku cinta banget sama seseorang, sampai akhirnya aku merasa, "Mending aku mundur, berhenti ngirim pesan, kasih dia ruang yang dia butuhin, biarin dia ngejar cinta yang dia inginkan."

Aku mikir, "Kalau aku beneran cinta, ya aku bakal ngelepasin." Selama dia bahagia, aku ngerasa cukup. Daripada maksa dia hanya untuk ngertiin perasaanku. Keputusan itu nggak gampang, tapi rasanya itu yang terbaik. Aku tahu dia pantas sama orang yang dia suka, meskipun itu bukan aku. So, I stopped.

Tapi seiring waktu, ada yang berubah dalam diri aku. Aku sadar, meskipun perasaanku untuknya masih ada, ternyata aku harus lebih sayang sama diri sendiri. Kenyataannya adalah, nggak peduli seberapa besar perasaan aku, kalau ternyata itu nggak buat aku, ya harus rela. Aku nggak bisa terus bertahan pada sesuatu yang nggak seharusnya terjadi. Aku mulai ngerti kalau cinta itu nggak cuma soal bertahan, tapi juga soal melepaskan kalau itu yang terbaik buat kedua pihak.

Aku nggak kehilangan perasaan untuknya, aku masih peduli banget. Tapi aku menyadari sesuatu yang jauh lebih penting. Aku bukanlah orang yang dia inginkan. Dan kenyataan itu, meskipun nyakitin banget, akhirnya ngasih aku kekuatan buat ngelepasin. Kadang, kita perlu jalan menjauh, bukan karena udah nggak peduli, tapi karena kita lebih cinta sama diri kita sendiri dan tahu kalau bertahan cuma ngasih lebih banyak rasa sakit.

Melepaskan bukan berarti kita berhenti mencintai seseorang; itu justru berarti berhenti nungguin sesuatu yang nggak ditakdirin buat kita. Dan itu, sebenernya, adalah bentuk cinta—cinta ke diri sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Pengangguran masih menjadi masalah yang signifikan di Indonesia, yang menimbulkan dampak luas pada administrasi pemerintahan jika tidak ditangani. Dampak pengangguran antara lain meningkatnya kejahatan, meningkatnya tingkat kemiskinandan dampak buruk pada perekonomian negara. Sebaliknya, pengangguran terdidik dapat berdampak negatif secara fisik, psikologis, dan sosial. 

Kurangnya pendapatan yang stabil menyebabkan keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Secara psikologis dan sosial, individu menghadapi tekanan, rasa malu, ketidaknyamanan dalam keluarga, terbatasnya interaksi dengan teman sebaya yang sukses, dan jaringan sosial yang ambigu. Pengangguran di Indonesia merupakan masalah yang memiliki banyak sisi, yang memengaruh berbagai sektor sosial dan ekonomi. Pemerintah telah menerapkan beberapa kebijakan untuk mengatasi masalah ini, termasuk bantuan keuangan untuk bisnis, program ekonomi seperti insentif pajak dan pelonggaran kredit, dan inisiatif pelatihan seperti Program Kartu Prakerja bagi mereka yang terkena PHK. 

Selain itu, upaya untuk memperluas kesempatan kerja mencakup pekerjaan padat karya, proyek padat karya produktif, teknologi tepat guna (TTG), Tenaga Kerja Mandiri (TKM), dan inisiatif kewirausahaan.

SOURCE : BPS, 2024 (https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2024/05/06/2372/unemployment-rate-was-4-82-per-cent-and-average-labour-wage-was-3-04-million-rupiahs-per-month-.html)

Terdapat 23 bidang studi yang membahas tentang pengangguran di Indonesia. topik pengangguran di Indonesia paling banyak dibahas di bidang Ilmu Sosial, yaitu sebanyak 106 dokumen. Disusul oleh Kedokteran dengan 95 dokumen, Ekonomi, Ekonometrika, dan Keuangan dengan 64 dokumen, Bisnis, Manajemen, dan Akuntansi dengan 32 dokumen, dan Ilmu Lingkungan dengan 31 dokumen. Analisis penulis menunjukkan bahwa topik pengangguran memiliki relevansi di berbagai bidang studi. 

Dalam ilmu sosial, pengangguran dipandang sebagai fenomena sosial yang memiliki implikasi luas bagi kesejahteraan masyarakat. Kajian di bidang ini diharapkan dapat memengaruhi hasil kebijakan publik dalam mengatasi pengangguran. Topik ini juga berdampak pada kesehatan mental dan fisik (Kedokteran), ekonomi makro dan mikro (Ekonomi), manajemen sumber daya manusia (Bisnis), dan keberlanjutan lingkungan (Ilmu Lingkungan). Oleh karena itu, pengangguran merupakan masalah multidimensi yang menarik perhatian dari berbagai disiplin akademis. Menariknya, meskipun sangat terkait dengan topik ekonomi, masalah pengangguran di Indonesia juga diteliti dalam studi psikologi, dengan 8 dokumen yang diterbitkan. 

Berbagai penelitian turut mencatat bahwa pengangguran merupakan faktor sosiodemografi yang memengaruhi individu dengan gejala dan fungsi psikologis. Studi psikologi tentang pengangguran di Indonesia bertujuan untuk memahami persepsi individu tentang pengangguran, faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan, serta cara meningkatkan adaptasi psikologis terhadap pengangguran.

Program Penanganan Pengangguran di Indonesia? 

Pengangguran di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain peran pendidikan dalam peningkatan kemampuan sumber daya manusia, dampak kemerosotan ekonomi terhadap kelompok rentan hubungan kausalitas satu arah antara inflasi dan pengangguran, serta dampak pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat upah, dan krisis ekonomi selama pandemi COVID-19. Oleh karena itu, penanganan pengangguran memerlukan pendekatan holistik yang mencakup peningkatan pendidikan, penciptaan lapangan kerja, dan pengelolaan ekonomi.

Inisiatif pemerintah untuk memerangi pengangguran mencakup pendekatan berbasis pekerjaan melalui pembelajaran berbasis kehidupan, yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi dan motivasi siswa sekaligus mengurangi tingkat pengangguran. Pendidikan kewirausahaan di pendidikan tinggi diusulkan untuk meningkatkan karakter, kebiasaan, sikap, dan minat dalam kewirausahaan, sehingga berpotensi meningkatkan jumlah wirausahawan baru dan mengatasi pengangguran intelektual. 

Pengangguran ditemukan memiliki korelasi negatif dan signifikan secara statistik dengan ketimpangan pendapatan di Indonesia, yang menunjukkan bahwa ketimpangan tidak hanya didorong oleh kelangkaan pekerjaan. Pekerjaan yang berkualitas dianggap penting untuk distribusi pendapatan yang lebih adil.

Selain itu, telah ditetapkan bahwa tingkat pengangguran tidak mempengaruhi tingkat inflasi; sebaliknya, hubungan sebab akibat berjalan dari inflasi ke pengangguran. Fluktuasi inflasi merupakan respons terhadap guncangan pengangguran, dengan inflasi yang tinggi terutama didorong oleh biaya komoditas pokok dan bahan bakar, dan kehadiran pekerja asing dapat meningkatkan risiko pengangguran bagi pekerja lokal.

SOURCE : BPS, 2024 (https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2024/05/06/2372/unemployment-rate-was-4-82-per-cent-and-average-labour-wage-was-3-04-million-rupiahs-per-month-.html)

Terdapat 659 publikasi ilmiah terkait pengangguran di Indonesia dalam basis data Scopus. Setelah menerapkan kriteria tertentu, telah diidentifikasi total 265 dokumen yang membahas pengangguran di Indonesia sejak 1976. Tren publikasi menunjukkan fluktuasi hingga 2005, tetapi sejak 2017, terjadi peningkatan publikasi tahunan yang konsisten. 

Visualisasi jaringan mengungkapkan bahwa kata kunci yang paling sering muncul adalah "Indonesia," dengan 221 kemunculan, diikuti oleh "Pengangguran" dengan 145 kemunculan. Topik yang masih jarang dibahas meliputi Indeks Pembangunan Manusia, ketimpangan pendapatan, modal manusia, investasi, inflasi, pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, pekerjaan, pengetahuan, stigma sosial, dukungan sosial, penyediaan layanan kesehatan, urbanisasi, penduduk pedesaan, dan faktor risiko. 
Penelitian di masa mendatang dapat mengeksplorasi area-area yang kurang diteliti ini, terutama hubungannya dengan penanganan pengangguran di Indonesia. Berdasarkan analisis isi dari 51 publikasi penelitian, upaya untuk mengatasi pengangguran di Indonesia dapat dikategorikan ke dalam lima area utama: penyediaan lapangan kerja yang berkualitas, peningkatan produktivitas kerja, pendidikan kewirausahaan di universitas, kebijakan moneter Indonesia, dan kebijakan pasar tenaga kerja.


Fenella Saputri
123020355

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hi, if you're reading this, please contact me, i miss you.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kamu menulis seolah hanya ada satu cerita, tentang tidak cukupnya dirimu, tentang kekurangan yang terus kamu lihat. Tapi pernahkah terpikir, di sudut lain dari kisah itu, ada seseorang yang pernah menganggapmu cukup? Yang tetap ada di sana saat kamu mungkin tak melihat atau tak peduli?

Kadang, kita terlalu sibuk meratapi apa yang hilang, sampai lupa ada yang pernah tinggal. Mungkin dia tak lagi di sana, atau mungkin juga masih, tapi kamu tak pernah benar-benar menoleh. Tidak semua orang butuh dirimu sempurna, beberapa hanya butuh dirimu yang jujur, yang nyata.

Fokus ke diri sendiri itu baik, tapi jangan sampai lupa, kadang apa yang kamu anggap biasa bagi dirimu, bisa jadi luar biasa bagi orang lain. Dan siapa tahu, cerita ini sebenarnya belum selesai, hanya jeda untuk halaman berikutnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ada saat-saat di mana dunia terasa begitu sempit. Dinding-dinding ini semakin mendekat, seperti ingin menghimpitku hingga hilang udara. Aku duduk di tengahnya, memeluk lutut, berharap seseorang akan mengetuk pintu dan membawaku pergi. Tapi pintu itu tetap diam.

Aku ingin ditemani, tapi rasanya seperti memohon pada angin. Suara-suara yang kudengar hanyalah pantulan dari kepalaku sendiri, berputar-putar tanpa jawaban. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang, berteriak sekeras mungkin, namun hanya gema yang kembali, memukul hati yang sudah retak.

Sunyi ini menggigit lebih tajam daripada pisau. Ia merayap perlahan, mengisi ruang-ruang kosong di dalam diri, hingga tak tersisa apa-apa selain kehampaan. Aku ingin melawan, tapi tubuhku terlalu lelah, dan hatiku terlalu dingin.

Ada bayangan yang terus memanggilku, mengundangku masuk ke dalam pelukan gelapnya. Ia menjanjikan keheningan abadi, bebas dari sakit, bebas dari rasa kehilangan yang tak kunjung berhenti. Bayangan itu tampak seperti sahabat lama, satu-satunya yang setia menemaniku di saat tak ada yang lain.

Tapi bahkan dalam keputusasaan ini, ada sesuatu yang menahan langkahku. Mungkin rasa takut. Mungkin sisa harapan yang nyaris mati. Atau mungkin aku hanya terlalu terbiasa dengan rasa sakit ini, hingga aku tak tahu bagaimana cara benar-benar melepaskannya.

Aku tetap di sini, duduk di antara dinding-dinding sepi. Menunggu sesuatu, atau seseorang, yang bisa menarikku kembali ke dunia. Tapi semakin lama aku menunggu, semakin aku merasa bahwa dinding-dinding ini adalah satu-satunya tempatku.

Mungkin, jika aku menyerah, sunyi ini akan berhenti menyiksaku. Atau mungkin aku hanya akan menjadi bagian dari sunyi itu selamanya.

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Hidup ini seperti perjalanan panjang tanpa arah. Langit selalu abu-abu, dan angin yang bertiup membawa dingin yang menggigit, seolah mengingatkan bahwa hangatnya pelukan matahari hanyalah ilusi. Aku berjalan, tapi tak ada tujuan. Aku menunggu, tapi tak ada yang datang. 

Ada rasa lelah yang merambat, menjalar perlahan, membungkus setiap sudut jiwa. Aku memandang ke depan, tapi yang terlihat hanyalah jalan kosong, tanpa akhir. Aku memandang ke belakang, tapi yang ada hanyalah jejak-jejak yang seharusnya tak pernah ada.

Kadang aku bertanya pada diri sendiri, “Untuk apa semua ini?” Tapi pertanyaan itu tak pernah mendapat jawaban. Diam menjadi teman, dan sepi menjadi rumah.

Aku ingin berhenti. Rasanya seperti menanti senja yang tak pernah muncul, langit yang tak pernah berubah warna. Satu-satunya yang pasti adalah malam, gelap yang selalu setia datang, memeluk erat hingga aku sulit bernapas.

Jika hidup adalah perjalanan, maka aku ingin turun dari kereta ini. Aku tak lagi peduli ke mana tujuan akhirnya, karena tak ada yang menungguku di sana. Aku hanya ingin diam. Tanpa suara, tanpa langkah, tanpa harapan.

Mungkin, jika aku berhenti di sini, aku akan menemukan ketenangan yang selama ini tak pernah ada.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Malam ini, jarum jam baru saja melewati angka satu. Tiba-tiba, kenangan tentangmu menyeruak tanpa permisi, mengisi seluruh ruang di hati yang seharusnya kosong. Ada rasa sesak yang menyelinap, membuat dada ini terasa berat. Napasku menjadi pendek, seakan paru-paru enggan bekerja sama.

Pelan-pelan, air mata mulai mengalir, jatuh tanpa suara. Semakin lama, pipi ini basah, seakan menjadi saksi bisu atas luka yang tak kunjung sembuh. Rasanya aneh, betapa ingatan bisa menjadi penjara, dan betapa malam seringkali menjadi pengadil yang paling jujur.

Tak ada yang bisa menghapus perasaan itu dalam sekejap. Dalam setiap tetes air mata, ada cerita yang terulang, ada harapan yang tak lagi punya tempat. Aku hanya bisa terdiam, membiarkan kesedihan itu bernafas di antara keheningan malam.

Inilah saat-saat di mana aku sadar, bahwa meski waktu terus berputar, ada bagian dari diriku yang masih terjebak di momen ketika kita masih ada. Malam ini, tepat jam satu, aku diingatkan lagi tentang betapa sesaknya kehilangan dan betapa nyatanya kepergianmu di setiap denyut yang memanggil nama itu.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Well, this year has been quite a wild ride! Things didn't go as planned, but that's life, right? Even though my love life is a bit messy, I passed this year full of gratitude for my education and career. I am always given sufficiency and enjoyment. Although there was one big decision that really changed my life 360 ​​degrees. Honestly, I know it's wrong. But the black shadow always confuses me until I lose my direction. Ya, I strayed too far.

On this journey, I learned not to be afraid to remove toxic people from my life. Goodbye, drama! I realize that my happiness is in my own hands and I don't need to worry about disappointing other people. I decided to get rid of unnecessary burdens and make room for the good things. I also accept that some people are not meant to stay in my life, and that's okay. It's time to move forward and focus on what is truly important to me.

By the way, this year will be a crazy year because the jumping off point where I will start my career.

That's all for now. I hope these incredible experiences keep coming!

Happy 22nd birthday, me!

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Tahun ini telah menjadi rentetan pengalaman yang menarik bagiku. Aku menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang siapa yang menginginkanku, it's about who consistently chooses u. Seiring berjalannya waktu, aku memetik beberapa hal yang ingin aku bagi ke kalian.

Not everyone enters ur life with u as their primary goal; some just want to revisit the past. Namun, aku mulai memahami bahwa orang-orang yang hadir dalam hidupku membawa serta sesuatu; entah itu penyesalan atau sebuah pelajaran berharga. Yang lebih penting, pilihannya ada pada tanganku sendiri untuk menjaga apa yang akan kutinggalkan dari setiap perjumpaan tersebut –the choice is yours.

Aku telah belajar bahwa tindakan bijaksana lebih bernilai daripada tindakan impulsif. Kebaikan dan pengertian mampu menciptakan perbedaan besar.

"Actions that are carefully considered endure longer compared to impulsive ones; displaying kindness and understanding creates a significant impact."

Selalu penting untuk nggak buru-buru saat ngambil keputusan, karena terkadang alasan sebenarnya tersembunyi di balik berbagai hal.

Hari ini mungkin berakhir, tapi besok akan selalu datang. Terdapat waktu dan ruang untuk terus tumbuh dan memperbaiki diri. Aku juga menyadari bahwa kurangnya empati adalah tindakan yang egois. Untuk itu, aku berusaha untuk selalu membawa kebaikan dalam setiap langkahku.

Aku belajar untuk tidak menyia-nyiakan energi hanya untuk menjadi sempurna di mata semua orang. Yang lebih penting adalah menjadi versi terbaik dari diriku sendiri. Aku percaya bahwa untuk mencapai hal ini, dibutuhkan dua hati yang tulus untuk berusaha bersama dalam segala situasi.

Terakhir, namun tak kalah pentingnya, aku belajar untuk tidak hanya mengandalkan motivasi, tetapi lebih pada disiplin. Disiplin adalah kunci utama untuk mencapai apa pun yang ingin aku raih.


Selamat tahun baru.

Salam hangat, Ol.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Nggak habis pikir deh, mungkin nggak yaa with my foolish, stubborn, n selfish nature, someone not to give up on me?

Aku bener-bener nggak ngerti kenapa susah banget buat langsung nyambung sama orang dari awal; aku bener-bener nggak percaya sama yang namanya fall in love at first sight. Mungkin itu yang bikin aku move onnya lama dan susah cepat nerima orang baru (Move on tercepat setahun deh kayaknya) –apa cuma alasan yang norak ya? :D

Biasanya aku butuh waktu sekitar 4 bulan buat nerima orang baru, tapi buat aku rasanya kayak sebentar aja. Jadi, menurutku, 4 bulan buat ngeladenin, 3 bulan lagi buat deketan, dan baru 6 bulan buat pastiin kalo aku suka sama seseorang. Kecuali kalau dalam waktu dekat aku bisa lihat sosok orang itu 'kayak gini', yaudah, secukupnya. Di waktu itu juga aku nggak akan nerima orang baru lagi. Iya, kalau ada seseorang yang ada di tahap itu artinya orang itu ya satu-satunya, orang itu ada peluang, kalau nggak ya nggak akan kuladenin. Tapi masalahnya, dengan waktu yang lambat banget kayak gitu, ada yang bakal tahan nggak ya sampe setahun? Kayaknya mustahil sih, haha. Jadi, kalo ada yang bertahan sama aku selama setahun, i promise to give them everything, atau mungkin itu bakal terjadi dengan sendirinya, haha.

Tapi ya, susah banget sih, n the timing is slow. Tapi aku yakin orang itu bakal dateng. I’m writing this as a hopeful note and a way to show kalo 'kamu' bisa dapetin hati aku, well, i’m completely in love again.

Selama apapun prosesnya, selama masih ada harapan, i’ll keep searching, albeit at a slow pace, haha!

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bia donat bilang gini, anything you do in the past does not change anything in the present. Penyesalan dan kesedihan bisa jadi motivasi terbesar dalam diri seseorang meskipun dia tahu nggak akan ngubah apapun. Banyak dari mereka yang begitu termotivasi untuk menghidupkan kembali momen di masa lalu. Di suatu bagian diri mereka berpikir bahwa mungkin hal-hal akan berubah kalau mereka melakukan hal lain. Lalu, terpikir oleh konsep menerima masa lalu dan menerima sekarang apa adanya, bener-bener nggak ada lagi yang bisa dilakukan tentang hal-hal yang telah hilang. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan sekarang adalah hidup dengan apa adanya. Tapi tenang, tentu kita masih bisa menyelamatkan hal-hal yang dimiliki saat ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Terima kasih Tuhan, Kau tunjukkan semuanya secara jelas dan nyata tanpa saya cari tahu, hingga saya bisa tertawa dan berkata, "Anda nggak pantas untuk mendapatkan ketulusan saya, Tuan. Anda terlalu pintar menyembunyikan semuanya."

Saya ingat anda pernah berkata, "Tidak semua laki-laki itu baik ya, Nona."

Benar saja, laki-laki itu anda, Tuan. Tidak pernah kusangka dan tidak akan kubuka pintuku kembali untukmu. Saya yakin lewat hal ini Tuhan memberi kode kalau memang selama ini yang saya anggap baik, malah berlaku sebaliknya.

"If you wanna cry just cry until you feel better."

"Until you feel enough and you must stop it, wipe your tears, take your crown and grow to be independent. He lost you but you find yourself (again) in the next level, so you win."

Take a deep breath, life must go on.. Sometimes someone comes into my life to give me a wound and make it a lesson not a happiness i want and i have to make sure that i'm okay with that. Happiness will be come at the right time. I hope my tears flow to grow happiness out there.


Share
Tweet
Pin
Share
6 komentar
Newer Posts
Older Posts

Penulis


Panggil aja ol. Ini sisi lain dari aku, nulis random dan ala kadarnya. Mau tau sisiku yang lain? ada di instagram atau youtube, violasevio.

Follow Me

  • instagram
  • youtube
  • twitter

Archive

  • December 2025 (1)
  • October 2025 (1)
  • July 2025 (1)
  • June 2025 (3)
  • April 2025 (1)
  • January 2025 (2)
  • December 2024 (3)
  • November 2024 (3)
  • July 2024 (1)
  • December 2023 (2)
  • November 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • August 2023 (1)
  • July 2023 (2)
  • June 2023 (2)
  • May 2023 (1)
  • February 2023 (1)
  • July 2022 (1)
  • February 2022 (4)
  • January 2022 (2)
  • December 2021 (5)
  • November 2021 (5)
  • October 2021 (6)
  • September 2021 (3)
  • August 2021 (3)
  • July 2021 (3)
  • May 2021 (1)
  • April 2021 (1)
  • February 2021 (2)
  • January 2021 (2)
  • December 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • August 2020 (1)
  • April 2020 (1)
  • March 2020 (1)
  • December 2019 (1)
  • July 2019 (3)
  • May 2019 (1)
  • April 2019 (1)
  • February 2019 (1)
  • December 2018 (1)
  • November 2018 (2)
  • October 2018 (1)
  • September 2018 (1)
  • June 2018 (3)
  • February 2018 (1)

labels

  • #30DayWritingChallenge (5)
  • a note to myself (10)
  • Beropini (6)
  • Daily (5)
  • Monolog (2)
  • photos (8)

Followers

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates