• Home
  • About
  • Youtube Channel

gmail instagram twitter youtube

Dikalamuda

Berbagi Cerita Ala Kadarnya


Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak bahasa daerah. Menurut data dari Ethnologue, Indonesia memiliki 726 bahasa yang dituturkan oleh berbagai etnis di seluruh wilayah Indonesia. Walaupun di setiap daerah penggunaan bahasanya berbeda, tetapi mereka dapat berkomunikasi dengan baik satu sama lain menggunakan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Mengingat makna dari salah satu isi Sumpah Pemuda yaitu “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.” Makna tersebut harus dijunjung tinggi sebagai ikrar janji persatuan bangsa termasuk di kalangan remaja. Lantas di era globalisasi dan teknologi seperti saat ini, bagaimana para remaja berbahasa?
Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini hampir tidak ada yang menggunakannya dengan benar. Dalam pergaulan anak muda, mereka cenderung tidak memperhatikan bahasa apa yang mereka gunakan, seakan-akan bahasa Indonesia sudah mulai pudar dan tergantikan oleh bahasa asing dan gaul yang menurut mereka cocok dipakai di era sekarang. Tak jarang para remaja lebih fasih menggunakan bahasa tersebut dibandingkan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka beranggapan bahwa dengan menggunakan bahasa asing dan gaul, maka mereka akan dianggap sebagai anak muda yang kekinian, keren, dan tidak gagap teknologi.
Bahasa gaul yang dipakai saat ini mungkin sudah tidak asing lagi didengar bagi kita. Terlepas dari berbagai alasan, bahasa gaul ini bahkan bisa sangat mendarah daging di suatu daerah, misalnya di Jakarta. Kita semua tau, daerah tersebut sudah lama menjadi trendsetter bagi para pemuda dalam berbahasa gaul. Tidak hanya di daerah metropolitan yang menggunakan bahasa gaul, bahkan berbagai daerah lain di Indonesia pun ikut merambah  akan fenomena bahasa gaul tersebut. Hal ini cukup memprihatinkan bagi bangsa Indonesia. Jika dari bahasa Indonesia saja kurang di banggakan oleh rakyatnya, maka bagaimana bangsa Indonesia akan mengembangkan kekayaan lain yang dimilikinya.
Beberapa waktu ini, ada fenomena yang ramai diperbincangkan yaitu penggunaan bahasa anak Jakarta Selatan atau yang lebih dikenal dengan Jaksel. Situs Spreadfast mencatat ada lebih dari 52.000 tweet mengenai ‘anak Jaksel’ maupun dengan tagar #anakjaksel di Twitter sepanjang dua pekan pertama pada September 2018. Contoh penggunaan kalimatnya adalah “To be honest, sejujurnya gua selama ini tahu even dia enggak pernah bilang. Which sebenernya literally gua kek have feel,...” Berdasarkan gaya ini, seseorang menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Inggris dalam percakapannya. Hal itu menjadi identitas tersendiri yang justru menjadi lelucon di sosial media.
Menurut salah seorang pakar linguistik Universitas Indonesia, Bernadette, fenomena ini adalah risiko kontak bahasa. “Hal ini tidak bisa dihindari karena memang ada interaksi setiap bahasa. Ada bahasa Inggris, bahasa gaul, dan berbagai macam bahasa lain yang membuat perkembangan bahasa seperti ini tidak bisa dihindari. Di satu sisi kita membutuhkan cara untuk tetap mengungkapkan bahasa dengan benar, tapi disisi lain, bahasa juga punya fungsi. Kalau terlalu formal maka pada situasi tertentu kita akan menjadi terasing.” kata Bernadette saat dihubungi BBC News Indonesia.
Sedangkan menurut Psikolog Klinis Kasandra Putranto, menilai jika gaya bahasa ala anak Jaksel digunakan sebagai metode atau cara belajar bahasa Inggris. Menurutnya jika gaya bahasa campuran itu masuk dalam tren remaja, ada kemungkinan hasil imitasi dari tindakan orang lain. “Artinya mungkin banyak artis, idola, atau figur panutan mereka yang sudah go internasional,” kata Kasandra kepada reporter Tirto. Tindakan meniru tersebut merupakan gejala umum karena pemilihan figur panutan tiap kelas sosial berbeda. Maka bisa dikatakan bahwa penggunaan bahasa anak Jaksel juga ditujukan untuk menunjukkan status dan posisi sosial. Seharusnya bahasa tersebut jangan dicampur-campur demi menjaga bahasa Indonesia, ucap Kasandra.
Globalisasi mungkin bisa dijadikan alasan tepat untuk menjawab fenomena penggunaan gaya bahasa anak Jaksel. Situasi ini yang membuat orang lupa akan bahasanya sendiri, akibatnya bahasa Indonesia seolah-olah menjadi tidak bernyawa. Adanya globalisasi bukan menjadi hambatan untuk mencintai, menjunjung tinggi, dan menjaga keaslian bahasa Indonesia. Sebab, bahasa Indonesia merupakan jati diri dan sebagai bahasa pemersatu. Itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘bahasa menunjukkan bangsa’. Jika bangsa Indonesia tidak menjaga keaslian bahasanya, maka lambat laun warisan nenek moyang ini akan terkuras oleh waktu.
Sebenarnya penggunaan bahasa anak Jaksel bisa dikatakan positif jika pemakai bahasa tersebut memahami pada konteks apa mereka harus menggunakan bahasa baku, dan kapan boleh menggunakan bahasa gaul yang dicampur dengan bahasa asing. Selain itu, percampuran bahasa asing dalam komunikasi juga dapat melatih kosakata perbendaharaan bahasa. Namun, secara tidak langsung hal ini dapat mempersempit dan membuat malas orang asing yang berada di Indonesia untuk mempelajari dan mendalami bahasa Indonesia itu sendiri, karena mereka menganggap masyarakat Indonesia saja lebih senang berkomunikasi menggunakan bahasa asing. Hal ini dapat membuat lunturnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.
Masalah utama yang dihadapi dalam percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing adalah pada diri masing-masing atau lebih dikenal dengan psikologi. Remaja berpikir bahwa hal seperti itu dianggap lumrah dan keren. Namun, jika kita cermati lebih dalam, bahasa yang seperti itu akan merugikan jika terus-menerus dipakai, karena bahasa tersebut bukanlah bahasa pemersatu bangsa Indonesia, melainkan gaya bahasa yang tren dan dianggap kekinian. Maka, cara yang paling tepat adalah memberikan pengertian kepada remaja untuk dapat membedakan konteks pemakaian bahasa. Salah satunya mewajibkan penggunakan bahasa Indonesia saat berada di sekolah atau dalam suasana formal.
Sebagai contoh kita lihat negara di Asia Timur Tengah, Arab Saudi, Irak, dan sebagainya. Mereka menggunakan bahasa Arab dengan kental dan tidak bercampur dengan bahasa negara lain. Hal ini membuktikan bahwa adanya penghormatan serta penghargaan terhadap identitas asli mereka. Maka dari itu, seharusnya kita mencontoh negara tersebut yaitu dengan lebih peduli lagi terhadap bahasa Indonesia. Minimal tidak mencampur adukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Bukan berarti kita tidak harus mempelajari bahasa asing, melainkan menggunakan bahasa tersebut tepat pada tempatnya, karena remaja sebagai generasi penerus yang nantinya mengajarkan cara berbahasa yang santun kepada generasi berikutnya yaitu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.


Seviola Angely Arifia Putri
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ini kali pertamaku ke luar kota sendiri. Yak, solo traveling. Pas banget ada event gede, namanya International Gamelan Festival. Walau disana dua hari, tapi seneng sekaligus capek rasanya :))
Aku punya beberapa fotonya nih, cekidot!





















Aku juga sempet bikin video pendek di youtube, ini nihhh!


Pulang bawa banyak oleh-oleh ahahaha.


thank u gais, daaaa :)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pemuda! Nama yang begitu gagah didengar, begitu kharismatik dibayangan. Pemuda Nusantara merupakan satu-satunya generasi penggagas Indonesia Emas 2045. Saat ini banyak pemuda sudah kehilangan semangat mudanya. Dan banyak juga jiwa muda didalam pribadi seseorang yang menyimpang dari seharusnya. Menjadi pemaki tanpa memberi solusi, tanpa karya namun banyak kata, dan generasi muda yang lebih senang tangan dibawah daripada berjuang agar mandiri sehingga letak tangan bisa kembali diatas. Pemuda seperti itukah kita? Atau, sudah separah itukah Pemuda dan Jiwa Pemuda di negeri ini? Jika memang benar demikian, tidak salah jika bangsa ini masih terkulai lemas tak berdaya berkompetisi dengan negara lain, karena Pemuda-nya “mati suri”, bahkan tidak peduli dengan keadaan negara ini. Bahkan sedikit sekali  pemuda yang benar-benar serius akan karya mereka. Jikalau ada, itupun hanya sekadar untuk memenuhi tuntutan gaya hidup yang bersifat konsumtif saja. Lebih banyak dari mereka yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sedikit sekali pemuda yang matang secara emosional, cerdas dalam berpikir dan bertindak, dan konsisten dalam keimanannya.Namun, kita harus percaya bahwa Indonesia bisa bangkit dari itu semua, kita juga harus percaya bahwa kita bisa wujudkan Indonesia Emas 2045. Melalui sebuah karya, pemuda atas nama Indonesia harus mampu mengguncangkan dunia.
 Pemuda hebat pastilah pemuda yang berkarya, namun pemuda yang berkarya belum tentu dikatakan hebat. Hebat bukan hanya dilihat dari kesuksesan akademiknya saja. Bukan pula dilihat dari kepopulerannya, apalagi kepandaiannya dalam mencari uang. Semua itu adalah capaian semu bersifat pragmatis yang seolah menjadi prestasi besar yang telah berhasil mereka raih. Pemuda hebat bisa kita lihat dari karya-karyanya yang matang, bisa juga kita lihat dari kecerdasannya, bahasa dan tutur katanya, Ketaqwaannya, mandiri finansialnya, kejujurannya, dan kedewasaannya. Semua capaian itu bukanlah mustahil untuk didapatkan. Perlu adanya formula khusus untuk mewujudkannya dalam sistem pendidikan di negeri kita ini, karena tidak cukup dengan seperangkat aturan saja. Tanpa peran dari pemerintah, masyarakat, keluarga, dan lain sebagainya. Harus ada solusi yang lebih dari rencana melainkan dengan merealisasikan aturan tersebut sedemikan rupa. Kita tahu bahwa masa muda merupakan masa di mana seseorang sedang aktif berimajisi dan berkreasi. Dengan idealismenya, pemuda memiliki dorongan untuk berbuat sesuatu ketika melihat hal yang menyeleweng di masyarakat. Dorongan tersebut harus disalurkan ke hal-hal yang positif, salah satunya dengan wadah untuk merealisasikannya. Maka bentuklah organisasi yang memang merupakan suatu wadah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki pemuda, karena yang membedakan seseorang dengan yang lainnya adalah “Karya”.  Pemuda harus bisa membuktikan dengan karya nyata yang berkualitas dan menunjukan kapasitas dirinya, ikut ambil peran agar bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain.
 pemuda harus bisa memanfaatkan potensi Iptek dalam menciptakan karya baru. Memulai dari hal terkecil sudah membuat pemuda berkarya. Sebut saja dengan tidak menebar propaganda, tidak menebar isu SARA, dan menjadi pemuda yang mendidik masyarakat dengan segala tindakan perbuatan dan perkataan.  Menjadi pemuda yang peduli lingkungan, peduli akan keamanan lingkungan, peduli akan lingkungan sosial dan pemerintahan, sudah menjadi keharusan bagi pemuda yang ingin berkarya dan berguna bagi bangsa dan negara. Karya bisa dalam berbagai macam bentuk, seperti aplikasi, karya tulis maupun pemikiran/ide yang menjadi sebuah aksi nyata. Karya yang unik dan membedakan kamu dengan yang lain.
Sebagai pemuda Indonesia, teruslah bermimpi untuk meraih dan menggapai sukses. Dimana, menggapai sukses diawali dimasa muda, dan dikerjakan dengan semangat muda, seumur hidup kita. Jangan takut untuk bermimpi, seperti pesan dari R.A. Kartini kepada Pemuda, "teruslah bermimpi, teruslah bermimpi,bermimpilah selama engkau dapat bermimpi. Bila tiada bermimpi, apalah jadinya hidup! kehidupan yang sejatinya kejam".
            Mulailah berkarya,kobarkan semangat muda, demi perbaikan dan kemajuan negara dan bangsa yang kita cintai. Ini merupakan bentuk yang efektif untuk melakukan perubahan, yang kedepannya karya nusantara bisa mengguncangkan dunia.
Selamat Hari Sumpah Pemuda! :)


Seviola Angely Arifia Putri
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Berbicara masalah kehadiran sang fajar, paradigma yang tak akan habis dibicarakan olehnya. Aku hanya ingin bercerita berdua saja, denganmu. Hingga kau perlahan mulai letih, lesu, dan bertanya padaku.
Dalam diam tentu saja ya berumpama. Layaknya tempo lalu saat terjadi badai aku dan kamu meringkuk malu. Saat itu kamu pun terus bertanya.
Jikalau esok aku tiada. Dan saat itu juga keningku pecah. Membisu lagi ke segala arah, terperangkap. Namun aku tak akan mati esok, sang putri. Katanya.
Tuhan kan tak suka bercanda gurau. Bahkan aku sudah mati kemarin sore. Dihujani rindu-rindu pemberian sang Tuan Putri.
Ah aku tak suka konotasi seperti ini.
Coba tanyakan saja pada kekasihmu itu.


Seviola Angely Arifia Putri
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Nggak seperti biasanya aku bersantai, melupakan segala rutinitas membosankan di sekolah atau hanya belajar dan memikirkan hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk menunjang masa depan. Ibaratnya seperti magnet sejenis yang selalu berlawanan atau tidak akan menyatu. Anggap saya itu diriku. Tetapi tidak untuk kali ini dan seterusnya. Aku mulai menuntun hawa nafsu santai ku menuju rutinitas sewajarnya untuk kelas 3 SMA. Mencoba keluar dari zona nyamanku menuju zona dimana aku malas melakukan hal itu karena aku tidak terbiasa melakukannya. Tetapi akan ada fase dimana zona ketidaknyamananku berubah menjadi zona nyamanku karena aku terbiasa melakukan hal itu. Aku dan kalian harus berani melakukan hal berbeda dari biasanya. Perbanyak informasi, relasi, pengalaman, dan perubahan. Aku tau pada awalnya perubahan yang kita lakukan mungkin tidak akan terasa nyaman. Tapi percayalah, kita akan merasakan kepuasan dari ketidaknyamanan itu. Akan ada dua pilihan dalam hidup yaitu bertahan dalam zona nyaman tanpa ada perubahan atau keluar dari zona nyaman mengejar apa yang sebenarnya kita yakinkan. Kejarlah keyakinanmu itu walau akan banyak ditemukan lika-liku kehidupan, itu realitanya. Jangan menghindar, tetap kejar dan berjuang. Di puncak sana akan ada teman-teman yang senantiasa mendorongmu menuju perubahan. Yakinlah mereka akan bahagia seperti halnya kamu. Aku, kamu, dan mereka akan merasakan kepuasan dari perjuangan yang telah dilakukan. Perjuangan pasti akan membawa kepuasan. Sekali lagi, percayalah. Semua akan indah pada waktunya. Kita berubah sekarang atau tidak sama sekali. Jangan menyesal jika kamu memilih untuk tidak berubah, aku hargai keputusanmu itu. Tapi sekali lagi, jangan menyesal. Masa depan cerah menunggumu kawan. Selamat Hari Blogger Nasional :)


Seviola Angely Arifia Putri
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Penulis


Panggil aja ol. Ini sisi lain dari aku, nulis random dan ala kadarnya. Mau tau sisiku yang lain? ada di instagram atau youtube, violasevio.

Follow Me

  • instagram
  • youtube
  • twitter

Archive

  • August 2026 (1)
  • December 2025 (1)
  • October 2025 (1)
  • July 2025 (1)
  • June 2025 (3)
  • April 2025 (1)
  • January 2025 (2)
  • December 2024 (3)
  • November 2024 (3)
  • July 2024 (1)
  • December 2023 (2)
  • November 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • August 2023 (1)
  • July 2023 (2)
  • June 2023 (2)
  • May 2023 (1)
  • February 2023 (1)
  • July 2022 (1)
  • February 2022 (4)
  • January 2022 (2)
  • December 2021 (5)
  • November 2021 (5)
  • October 2021 (6)
  • September 2021 (3)
  • August 2021 (3)
  • July 2021 (3)
  • May 2021 (1)
  • April 2021 (1)
  • February 2021 (2)
  • January 2021 (2)
  • December 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • August 2020 (1)
  • April 2020 (1)
  • March 2020 (1)
  • December 2019 (1)
  • July 2019 (3)
  • May 2019 (1)
  • April 2019 (1)
  • February 2019 (1)
  • December 2018 (1)
  • November 2018 (2)
  • October 2018 (1)
  • September 2018 (1)
  • June 2018 (3)
  • February 2018 (1)

labels

  • #30DayWritingChallenge (5)
  • a note to myself (10)
  • Beropini (6)
  • Daily (5)
  • Monolog (2)
  • photos (8)

Followers

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates