• Home
  • About
  • Youtube Channel

gmail instagram twitter youtube

Dikalamuda

Berbagi Cerita Ala Kadarnya

Baca sambil dengerin lagu ini! :)


Kemarin, laptopku ngasih pesan ini: "The disk wasn't ejected because one or more programs may be using it." Kelihatannya sepele, kan? Tapi entah kenapa rasanya relate banget sama hidupku belakangan ini. 

Terinspirasi dari Aldi Haqq, kadang, kita pengen keluar dari sesuatu. Entah itu kenangan, kebiasaan buruk, atau perasaan yang nggak lagi sehat. Kita pikir semuanya udah selesai, tapi ternyata ada bagian lain dari diri kita yang masih menggunakannya. Relapse tuh persis kayak gitu. Kita udah ngerasa move on, tapi ternyata ada "program" di diri kita yang masih jalan tanpa kita sadar.

Apa yang bikin kita relapse juga sederhana banget. Hal kecil kayak lagu yang kita dengerin, foto di galeri, atau tempat yang nggak sengaja dilewati bisa bikin emosi lama ke-trigger lagi. Padahal mungkin kita udah beraktivitas normal atau bahkan udah bisa ketawa lagi. Tapi entah kenapa relapse tiba-tiba datang tanpa notifikasi.

Saat kita relapse, kita nggak bisa eject atau hapus paksa dari pikiran maupun hati kita karena kita masih pakai kenangannya. Kalau kita paksa yang terjadi apa? Resiko disk corrupt jadi lebih gede, device jadi bisa rusak, dan masih banyak resiko lain yang bakal kita hadapi.

Jadi menurutku, nggak apa-apa kalau masih ada yang nyangkut, nggak apa-apa kalau belum bisa move on sepenuhnya. Yang penting, kita sadar, dan pelan-pelan ngeberesinnya. Nggak semua hal harus selesai dalam sekali jalan, kan? Kita cuma perlu kasih waktu, nunggu sampai semua "program" selesai dengan sendirinya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sometimes, the most difficult thing in life is letting go of someone you care about. Love is a complex emotion, bisa bikin kita nggak hanya berkorban buat orang lain, tapi juga bisa nyakitin diri kita sendiri. Aku pernah ada di posisi di mana aku cinta banget sama seseorang, sampai akhirnya aku merasa, "Mending aku mundur, berhenti ngirim pesan, kasih dia ruang yang dia butuhin, biarin dia ngejar cinta yang dia inginkan."

Aku mikir, "Kalau aku beneran cinta, ya aku bakal ngelepasin." Selama dia bahagia, aku ngerasa cukup. Daripada maksa dia hanya untuk ngertiin perasaanku. Keputusan itu nggak gampang, tapi rasanya itu yang terbaik. Aku tahu dia pantas sama orang yang dia suka, meskipun itu bukan aku. So, I stopped.

Tapi seiring waktu, ada yang berubah dalam diri aku. Aku sadar, meskipun perasaanku untuknya masih ada, ternyata aku harus lebih sayang sama diri sendiri. Kenyataannya adalah, nggak peduli seberapa besar perasaan aku, kalau ternyata itu nggak buat aku, ya harus rela. Aku nggak bisa terus bertahan pada sesuatu yang nggak seharusnya terjadi. Aku mulai ngerti kalau cinta itu nggak cuma soal bertahan, tapi juga soal melepaskan kalau itu yang terbaik buat kedua pihak.

Aku nggak kehilangan perasaan untuknya, aku masih peduli banget. Tapi aku menyadari sesuatu yang jauh lebih penting. Aku bukanlah orang yang dia inginkan. Dan kenyataan itu, meskipun nyakitin banget, akhirnya ngasih aku kekuatan buat ngelepasin. Kadang, kita perlu jalan menjauh, bukan karena udah nggak peduli, tapi karena kita lebih cinta sama diri kita sendiri dan tahu kalau bertahan cuma ngasih lebih banyak rasa sakit.

Melepaskan bukan berarti kita berhenti mencintai seseorang; itu justru berarti berhenti nungguin sesuatu yang nggak ditakdirin buat kita. Dan itu, sebenernya, adalah bentuk cinta—cinta ke diri sendiri.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Pengangguran masih menjadi masalah yang signifikan di Indonesia, yang menimbulkan dampak luas pada administrasi pemerintahan jika tidak ditangani. Dampak pengangguran antara lain meningkatnya kejahatan, meningkatnya tingkat kemiskinandan dampak buruk pada perekonomian negara. Sebaliknya, pengangguran terdidik dapat berdampak negatif secara fisik, psikologis, dan sosial. 

Kurangnya pendapatan yang stabil menyebabkan keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Secara psikologis dan sosial, individu menghadapi tekanan, rasa malu, ketidaknyamanan dalam keluarga, terbatasnya interaksi dengan teman sebaya yang sukses, dan jaringan sosial yang ambigu. Pengangguran di Indonesia merupakan masalah yang memiliki banyak sisi, yang memengaruh berbagai sektor sosial dan ekonomi. Pemerintah telah menerapkan beberapa kebijakan untuk mengatasi masalah ini, termasuk bantuan keuangan untuk bisnis, program ekonomi seperti insentif pajak dan pelonggaran kredit, dan inisiatif pelatihan seperti Program Kartu Prakerja bagi mereka yang terkena PHK. 

Selain itu, upaya untuk memperluas kesempatan kerja mencakup pekerjaan padat karya, proyek padat karya produktif, teknologi tepat guna (TTG), Tenaga Kerja Mandiri (TKM), dan inisiatif kewirausahaan.

SOURCE : BPS, 2024 (https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2024/05/06/2372/unemployment-rate-was-4-82-per-cent-and-average-labour-wage-was-3-04-million-rupiahs-per-month-.html)

Terdapat 23 bidang studi yang membahas tentang pengangguran di Indonesia. topik pengangguran di Indonesia paling banyak dibahas di bidang Ilmu Sosial, yaitu sebanyak 106 dokumen. Disusul oleh Kedokteran dengan 95 dokumen, Ekonomi, Ekonometrika, dan Keuangan dengan 64 dokumen, Bisnis, Manajemen, dan Akuntansi dengan 32 dokumen, dan Ilmu Lingkungan dengan 31 dokumen. Analisis penulis menunjukkan bahwa topik pengangguran memiliki relevansi di berbagai bidang studi. 

Dalam ilmu sosial, pengangguran dipandang sebagai fenomena sosial yang memiliki implikasi luas bagi kesejahteraan masyarakat. Kajian di bidang ini diharapkan dapat memengaruhi hasil kebijakan publik dalam mengatasi pengangguran. Topik ini juga berdampak pada kesehatan mental dan fisik (Kedokteran), ekonomi makro dan mikro (Ekonomi), manajemen sumber daya manusia (Bisnis), dan keberlanjutan lingkungan (Ilmu Lingkungan). Oleh karena itu, pengangguran merupakan masalah multidimensi yang menarik perhatian dari berbagai disiplin akademis. Menariknya, meskipun sangat terkait dengan topik ekonomi, masalah pengangguran di Indonesia juga diteliti dalam studi psikologi, dengan 8 dokumen yang diterbitkan. 

Berbagai penelitian turut mencatat bahwa pengangguran merupakan faktor sosiodemografi yang memengaruhi individu dengan gejala dan fungsi psikologis. Studi psikologi tentang pengangguran di Indonesia bertujuan untuk memahami persepsi individu tentang pengangguran, faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan, serta cara meningkatkan adaptasi psikologis terhadap pengangguran.

Program Penanganan Pengangguran di Indonesia? 

Pengangguran di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain peran pendidikan dalam peningkatan kemampuan sumber daya manusia, dampak kemerosotan ekonomi terhadap kelompok rentan hubungan kausalitas satu arah antara inflasi dan pengangguran, serta dampak pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat upah, dan krisis ekonomi selama pandemi COVID-19. Oleh karena itu, penanganan pengangguran memerlukan pendekatan holistik yang mencakup peningkatan pendidikan, penciptaan lapangan kerja, dan pengelolaan ekonomi.

Inisiatif pemerintah untuk memerangi pengangguran mencakup pendekatan berbasis pekerjaan melalui pembelajaran berbasis kehidupan, yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi dan motivasi siswa sekaligus mengurangi tingkat pengangguran. Pendidikan kewirausahaan di pendidikan tinggi diusulkan untuk meningkatkan karakter, kebiasaan, sikap, dan minat dalam kewirausahaan, sehingga berpotensi meningkatkan jumlah wirausahawan baru dan mengatasi pengangguran intelektual. 

Pengangguran ditemukan memiliki korelasi negatif dan signifikan secara statistik dengan ketimpangan pendapatan di Indonesia, yang menunjukkan bahwa ketimpangan tidak hanya didorong oleh kelangkaan pekerjaan. Pekerjaan yang berkualitas dianggap penting untuk distribusi pendapatan yang lebih adil.

Selain itu, telah ditetapkan bahwa tingkat pengangguran tidak mempengaruhi tingkat inflasi; sebaliknya, hubungan sebab akibat berjalan dari inflasi ke pengangguran. Fluktuasi inflasi merupakan respons terhadap guncangan pengangguran, dengan inflasi yang tinggi terutama didorong oleh biaya komoditas pokok dan bahan bakar, dan kehadiran pekerja asing dapat meningkatkan risiko pengangguran bagi pekerja lokal.

SOURCE : BPS, 2024 (https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2024/05/06/2372/unemployment-rate-was-4-82-per-cent-and-average-labour-wage-was-3-04-million-rupiahs-per-month-.html)

Terdapat 659 publikasi ilmiah terkait pengangguran di Indonesia dalam basis data Scopus. Setelah menerapkan kriteria tertentu, telah diidentifikasi total 265 dokumen yang membahas pengangguran di Indonesia sejak 1976. Tren publikasi menunjukkan fluktuasi hingga 2005, tetapi sejak 2017, terjadi peningkatan publikasi tahunan yang konsisten. 

Visualisasi jaringan mengungkapkan bahwa kata kunci yang paling sering muncul adalah "Indonesia," dengan 221 kemunculan, diikuti oleh "Pengangguran" dengan 145 kemunculan. Topik yang masih jarang dibahas meliputi Indeks Pembangunan Manusia, ketimpangan pendapatan, modal manusia, investasi, inflasi, pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, pekerjaan, pengetahuan, stigma sosial, dukungan sosial, penyediaan layanan kesehatan, urbanisasi, penduduk pedesaan, dan faktor risiko. 
Penelitian di masa mendatang dapat mengeksplorasi area-area yang kurang diteliti ini, terutama hubungannya dengan penanganan pengangguran di Indonesia. Berdasarkan analisis isi dari 51 publikasi penelitian, upaya untuk mengatasi pengangguran di Indonesia dapat dikategorikan ke dalam lima area utama: penyediaan lapangan kerja yang berkualitas, peningkatan produktivitas kerja, pendidikan kewirausahaan di universitas, kebijakan moneter Indonesia, dan kebijakan pasar tenaga kerja.


Fenella Saputri
123020355

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hi, if you're reading this, please contact me, i miss you.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kamu menulis seolah hanya ada satu cerita, tentang tidak cukupnya dirimu, tentang kekurangan yang terus kamu lihat. Tapi pernahkah terpikir, di sudut lain dari kisah itu, ada seseorang yang pernah menganggapmu cukup? Yang tetap ada di sana saat kamu mungkin tak melihat atau tak peduli?

Kadang, kita terlalu sibuk meratapi apa yang hilang, sampai lupa ada yang pernah tinggal. Mungkin dia tak lagi di sana, atau mungkin juga masih, tapi kamu tak pernah benar-benar menoleh. Tidak semua orang butuh dirimu sempurna, beberapa hanya butuh dirimu yang jujur, yang nyata.

Fokus ke diri sendiri itu baik, tapi jangan sampai lupa, kadang apa yang kamu anggap biasa bagi dirimu, bisa jadi luar biasa bagi orang lain. Dan siapa tahu, cerita ini sebenarnya belum selesai, hanya jeda untuk halaman berikutnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Penulis


Panggil aja ol. Ini sisi lain dari aku, nulis random dan ala kadarnya. Mau tau sisiku yang lain? ada di instagram atau youtube, violasevio.

Follow Me

  • instagram
  • youtube
  • twitter

Archive

  • December 2025 (1)
  • October 2025 (1)
  • July 2025 (1)
  • June 2025 (3)
  • April 2025 (1)
  • January 2025 (2)
  • December 2024 (3)
  • November 2024 (3)
  • July 2024 (1)
  • December 2023 (2)
  • November 2023 (1)
  • September 2023 (1)
  • August 2023 (1)
  • July 2023 (2)
  • June 2023 (2)
  • May 2023 (1)
  • February 2023 (1)
  • July 2022 (1)
  • February 2022 (4)
  • January 2022 (2)
  • December 2021 (5)
  • November 2021 (5)
  • October 2021 (6)
  • September 2021 (3)
  • August 2021 (3)
  • July 2021 (3)
  • May 2021 (1)
  • April 2021 (1)
  • February 2021 (2)
  • January 2021 (2)
  • December 2020 (2)
  • November 2020 (1)
  • August 2020 (1)
  • April 2020 (1)
  • March 2020 (1)
  • December 2019 (1)
  • July 2019 (3)
  • May 2019 (1)
  • April 2019 (1)
  • February 2019 (1)
  • December 2018 (1)
  • November 2018 (2)
  • October 2018 (1)
  • September 2018 (1)
  • June 2018 (3)
  • February 2018 (1)

labels

  • #30DayWritingChallenge (5)
  • a note to myself (10)
  • Beropini (6)
  • Daily (5)
  • Monolog (2)
  • photos (8)

Followers

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates